Agraris bangkit dengan FOSS
16 05 2008
Indonesia negriku ….
Orangnya lucu-lucu….
Ramah tamah budayanya….
Gemah ripah loh jinawi …
Gambar diambil dari http://www.flickr.com/photos/janumedia/246286360/
Begitulah sebuah bait lagu yang dinyanyikan oleh Trio Kwek-Kwek saat saya masih kecil. Sebuah gambaran Indonesia yang begitu indahnya. Negara yang subur tanahnya namun justru sekarang lebih sering impor beras. Konon katanya kita sudah swasembada pangan sejak Pelita IV, namun kenapa sekarang yang terjadi justru kebalikannya, krisis pangan dimana-mana.
Saya memang tidak seberapa paham dengan pertanian. Apakah penyebab semua ini ? Beberapa masalah tersebut disebutkan oleh harian pelita. Namun saya mencoba sedikit memberikan solusi IT untuk membantu pertanian Indonesia yang terpuruk. Saya kira sudah saatnya IT di Indonesia juga membantu pembangunan pertanian secara merata. Selama ini banyak orang berpikir bahwa penerapan IT ibarat menara gading, sesuatu yang sulit dijangkau dengan kondisi yang serba terbatas. Apakah teknologi IT memang seperti menara gading?. Saya rasa tidak! Jujur secara pribadi saya terinspirasi oleh Bapak Untung, Bupati Sragen yang membangun ICT di kota Sragen Terbukti dengan teknologi IT banyak kemajuan yang dapat diraih.
Sebagai seorang yang bergerak di dunia IT dan terutama OSS, saya melihat ada contoh pengalaman bagus di India dalam menerapkan OSS untuk membantu pertanian disana. Mengapa saya lebih menitik beratkan ke OSS ? Tentu saja alasan harga, baik untuk softwarenya maupun hardwarenya. OSS dengan lisensi GPL didapatkan dengan biaya rendah dan mudah dikustomisasi sesuai dengan kepentingan pertanian Indonesia namun tetap bisa diakui kehandalannya dalam keamanan dan kinerja. Selain itu OSS pada umumnya tidak membutuhkan spesifikasi hardware yang tinggi.
Bagaimana pertanian di Indonesia bisa bangkit dengan adanya Free Open Source Software (FOSS)? Jawaban akan pertanyaan ini terjawab dengan pengalaman India yang berhasil memajukan pertaniannya dengan penggunaan aplikasi berbasis open source. Mengingat banyak kesamaan antara Indonesia dan India, sama-sama negara berkembang, sama-sama penduduk yang jumlahnya banyak, sama-sama negara agraris, dan kesamaan-kesamaan yang lain saya kira kita bisa menerapkan sistem serupa untuk membangkitkan kembali pertanian kita.
Bagaimana OSS dapat membantu pertanian di India ? Saya menemukan dua buah aplikasi terkait dengan hal tersebut, yaitu Jagriti dan aAqua
Jagriti diterapkan di daerah Punjab, India. Dalam implementasinya Jagriti menggunakan Linux. Jagriti memberikan layanan pengetahuan bagi para petani dengan konsep yang sederhana. Setiap desa didirikan pusat Jagriti. Pengetahuan apa yang diberikan Jagitri ? Pengetahuan bagaimana mendapatkan dana untuk bercocok tanam, dimana selama ini petani sering dirugikan oleh ulah rentenir dan pengijon (mirip sekali dengan Indonesia). Selain itu dibuat pula aplikasi e-Khad (aplikasi yang membantu petani untuk mendapatkan kombinasi pupuk termurah) dan e-Khet ( aplikasi untuk membantu menganalisa tanah pertanian). Semua aplikasi tersebut berjalan dengan teknologi OSS. Pendirian pusat Jagitri di pedesaan bersifat waralaba, dimana orang dilatih untuk belajar menggunakan aplikasi Jagitri.
aAqua merupakan kepanjangan dari Almost All Questions Answered karena tujuan dari aplikasi ini adalah mampu menjawab seluruh pertanyaan petani. Jawaban dari pertanyaan tersebut diambil dari pengalaman petani lain. Sistem ini menerapkan social networking di bidang pertanian dengan menggunakan teknologi open source seperti Tomcat, MySQL and mnvforum
Belajar dari dua pengalaman dari India, saya rasa Indonesiapun bisa. Kita tidak perlu menggunakan sistem IT yang terlalu canggih seperti di Jepang, semisal robot pemotong tanaman dan lainnya. Namun sebagai awalan, cukup menggunakan teknologi OSS sebagai media informasi untuk petani. Misalnya menggunakan Linux sebagai sistem operasi, apache sebagai webserver, Joomla sebagai CMS yang dilengkapi dengan VirtueMart, community builder dan komponen lain yang diperlukan baik diambil dari luar negeri atau buatan dalam negeri. Dengan sistem tersebut petani dapat menjual hasil panennya lewat VirtueMart, sehingga tidak ada harga gabah anjlok karena hasil panen mengumpul pada satu desa. Antar petani pun juga dapat berbagi informasi dengan community builder dan forum. Pemerintah pusat maupun daerah juga dapat memberikan informasi yang tepat, akurat dan berguna bagi para petani. Untuk melakukan ini semuanya tentunya perlu didirikan IT center di setiap desa, mirip dengan apa yang dilakukan Jagitri.
Saya rasa ini adalah sedikit solusi yang dapat kita berikan dalam dunia pertanian. Penggunaan OSS sendiri di lain pihak akan memberikan ruang bebas dan leluasa bagi kita untuk mengkustomisasi atau melakukan forking terhadap produk yang sudah ada untuk disesuaikan dengan situasi Indonesia selama mematuhi prinsip-prinsip yang termuat di lisensi tanpa harus meminta pengembang OSS asli untuk membuatkannya dan membayarnya. Coba bayangkan kita dapat dengan mudah menggunakan bahasa Jawa di Joomla dengan mengubah template bahasa dimana bahasa jawa lebih di mengerti oleh petani di Jawa. Saya rasa ini adalah salah satu bentuk kemerdekaan dan kemandirian IT yang diperoleh dari FOSS yang pada akhirnya dapat membantu pembangunan pertanian di Indonesia.
Dengan pengalaman penulis sebagai dosen teknologi open source di Sistem Informasi ITS , aktivis kluwek, wanita debian Indonesia, Google Summer of Code 2007-2008 dan developer internasional di Joomla yang sehari-harinya berkecimpung dengan dunia open source, saya yakin melalui roadmap yang jelas dan dukungan dari segenap aparat dan rakyat Indonesia
, dalam waktu yang tidak lama teknologi ini bisa diterapkan untuk membangkitkan pertanian di Indonesia. Go Go Go Indonesiaku ![]()






wow, kayaknya gara2 dikejar dateline ikutan lomba blog, masak rawon belum beres, akhirnya rawonnya masuk ke open source. hehehehe…
keren tulisannya. penggunaan teknologi informasi memang bisa memberikan manfaat ke banyak pihak. tapi apakah petani di indonesia mampu untuk menerapkannya?
menurutku sih terkendala dari fasilitas. selain itu, gerakan sosial yang mendukung petani di indonesia pun belum sepenuhnya melek teknologi dan open source. kebanyakan masih pake proprietary, bajakan pula.
meskipun begitu, ide ini patut diacungi jempol. keren…
bagus tuh.
cuman fotonya kurang bagus hi hi
abis kesannya petaninya males tuh, duduk2 saja [masak lagi chating di sawah]
ganti foto petani dan bu tani yg lagi kerja dong
baru bisa melukiskan betapa kerja keras petani utk menghasilkan bulir bulir beras yg kita makan dan kadang kita sia-siakan [kalo makan gak dihabisin]
postingan artikel ini sudah dibaca oleh saya. semoga sukses…
-dbu-
[www.donnybu.com]
Selamat anda menjadi salah satu pemenang kompetisi blog IGOS Summit 2
wah2! selamat ya bos! atas kemenangannya… btw mampir di galleryku juga yah thx b4
In english *please*
wah selamat ya jadi pemenang!
salut!
selamat yah..artikel yang membuka wawasan.
Selamat cik…. ente emang hebat…. kapan bikin Jagriti dan aAqua di Indonesia?? Please let me know if you do ya…..
Selamat untuk ibu Iin atas prestasinya menjadi juara blog igos summit…
Ehm, tapi prestasi untuk cari bapak untuk ibu iin masih belum khan…
He…he…he…
hai mba nuraini. selamat yah atas kemenangannya di lomba blog igos summit 2. terus maju, pantang mundur dalam menyuarakan oss di indonesia.
sukses selalu.
anw, jangan lupa traktirannya yah. ditraktir nasi rawon juga nggak apa2. hehehe…
Selamat mbak iin…
nice article..
-seledri
wahh … selamat ibu ….
ternyata banyak yang bisa kita lakukan untuk negeri ini …
kapan turun gunung dari pertapaan bu???
*halah*
wah..artikelnya bagus banget….
kira2 di indonesia sudah diterapkan blum, kalau udah diterapkan siapa aja penggeraknya boleh tahu nggak?
mungkin kita bisa share bagaimana dan seharsnya u/ masyarakat pertanian indonesia?